Tampilkan postingan dengan label Obesitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obesitas. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2012

Obesitas, Alkohol, dan Sinar X Picu Risiko Terkena Kanker Payudara

Obesitas, Alkohol, dan Sinar X Picu Risiko Terkena Kanker Payudara


foto by themedica.com


Laporan "Kanker Payudara dan Lingkungan: Pedoman Hidup," menurut para penulisnya, mengakui lingkungan yang mereka maksud lebih sempit dibandingkan dengan yang mungkin dikira orang. Untuk risiko kanker, umumnya bukan polutan di udara dan air yang harus dikhawatirkan perempuan. Dr. Kathy Helzelsouer, salah seorang penulis laporan yang diterbitkan Institute of Medicine di Washington itu mengatakan, "Kita umumnya mungkin tidak menyangka bahwa faktor lingkungan justru memicu kanker. Apa yang kita makan, berapa kenaikan berat badan kita akibat makan, olahraga, menghindari radiasi, hal-hal yang telah lama kita ketahui menyumbang bagi risiko kanker payudara."

Menurut Dr. Kathy yang bekerja pada Mercy Medical Center, berat badan dan obesitas menentukan karena sel-sel lemak memproduksi estrogen dan hormon itu memicu pertumbuhan sebagian besar kanker payudara. Para penulis laporan mendesak diambilnya langkah- langkah baru guna melindungi perempuan dari salah satu jenis kanker yang paling umum menyerang perempuan.

"Ada desakan agar segera bertindak, melakukan hal-hal yang kita yakin akan membantu. Salah satunya adalah memperkecil paparan radiasi, terutama pada masa remaja dan ketika payudara sedang tumbuh," ujar Dr. Helzelsouer lebih lanjut.

Namun, ada sebagian pihak yang mengecam. Mereka menyatakan, laporan itu tidak menekankan banyaknya bahan kimia industri dan pencemar lingkungan yang menyebabkan kanker itu, yang menurut mereka bisa menimbulkan risiko kanker payudara lebih besar bagi perempuan dibandingkan faktor-faktor gaya hidup mereka.

Laura Anderko, ilmuwan kesehatan masyarakat di Georgetown University Medical Center di Washington, mengatakan, "Laporan ini tidak disertai ajakan untuk bertindak. Tidak ada yang baru." Menurutnya, definisi sempit laporan itu terkait dengan istilah lingkungan yang menyesatkan. "Untuk menunjukkan bahwa obesitas dan minuman beralkohol merupakan faktor-faktor risiko lingkungan, menurut saya, benar-benar menyesatkan atau membingungkan orang dan menimbulkan kesan bahwa adalah menjadi tanggungjawab individu mengapa orang terkena kanker. Bagi orang atau anggota keluarga yang terkena kanker payudara, itu menimbulkan frustasi dan membingungkan, serta menyebabkan rasa putus asa," paparnya. Anderko berharap laporan itu lebih kuat dan provokatif, dan mendorong peran pemerintah dan industri dalam mengurangi risiko kanker payudara pada perempuan.

Tetapi, Dr. Helzelsour mempertahankan kesimpulan laporan itu. "Saya sudah mengajar epidemiologi kanker dan penelitian kanker selama bertahun-tahun. Menurut saya, salah satu faktor risiko dan salah satu paparan lingkungan yang penting adalah pola makan kita," ujarnya.

Para pengecam tidak mendesakkan standar yang lebih ketat guna menguji-coba bahan kimia baru dan mengendalikan polusi lingkungan yang bisa menimbulkan risiko signifikan kanker payudara

(voa.com)

Jumat, 30 September 2011

Kelebihan Lemak pada Lansia Membuat Kakinya Jadi Lemah

Kelebihan Lemak pada Lansia Membuat Kakinya Jadi Lemah

Menjaga berat badan selalu normal hingga usia lanjut nampaknya menjadi keharusan. Sebuah penelitian menemukan orang lanjut usia (lansia) yang punya kelebihan berat badan (obesitas) memiliki kaki yang lemah.

Penelitian yang dilakukan University of New Hampshire menemukan jika dinilai dari kekuatan kaki untuk menopang berat tubuh, kaki wanita lansia yang mengalami obesitas jauh lebih buruk dibandingkan dengan wanita yang memiliki berat badan normal. Hasil penelitian tersebut bertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan lansia kurus mempunyai kemungkinan yang lebih tinggi untuk menjadi cacat karena kehilangan massa <a href="/2011/09/6-makanan-pembangun-otot.html">otot</a>.

Kaki yang menopang tubuh yang mengalami obesitas akan membuat kerusakan yang lebih banyak dan lebih cepat pada kaki. Kerusakan ini karena kaki menopang tubuh yang mengalami obesitas yang dapat berkembang menjadi sebuah kecacatan. "Dua pertiga orang Amerika telah mengalami obesitas, sedangkan jumlah lansia diperkirakan akan meningkat menjadi 2 kali lipat pada tahun 2030. Hal tersebut berarti sebagian besar penduduk Amerika berisiko cacat akibat hilangnya massa otot," kata Dain LaRoche, seorang asisten profesor kinesiology yang juga merupakan salah seorang peneliti seperti dilansir dari MedicineNet, Kamis (29/9/2011).

Hasil penelitian yang disampaikan oleh para peneliti tersebut, antara lain:

1. Dibandingkan dengan <a href="/2011/09/nikahi-pria-seumuran-buat-wanita.html">wanita </a>lansia yang memiliki <a href="/2011/09/tips-jaga-berat-badan-saat-berhenti.html">berat badan</a> normal, wanita lansia yang mengalami obesitas memiliki kekuatan kaki yang lebih rendah sekitar 24 persen.

2. Kekuatan kaki untuk menopang berat tubuh pada wanita lansia yang mengalami <a href="/2011/08/waspadalah-gemuk-di-perut-beresiko.html">obesitas</a> berkurang sekitar 38 persen jika dibandingkan dengan wanita lansia yang memiliki berat badan normal.

3. Wanita lansia yang mengalami <a href="/2011/08/memprediksi-risiko-kematian-orang-gemuk.html">obesitas</a> dapat berjalan 20 persen lebih lambat jika dibandingkan dengan wanita lansia yang memiliki berat badan normal.

"Hasil penelitian tersebut telah menunjukkan bahwa, kelebihan lemak menyebabkan seseorang mempunyai mobilitas yang lebih terbatas," kata LaRoche. Memiliki berat badan yang normal memungkinkan seseorang dapat melakukan aktivitas di kehidupan sehari-hari dengan lebih baik dan lebih bugar. LaRoche juga mengatakan bahwa, seiring bertambahnya usia sebaiknya seseorang tetap menjaga berat badannya dalam kategori normal.

Menjaga berat badan tetap dalam kategori normal tersebut akan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran. "Lansia yang mengalami kelebihan berat badan dapat meningkatkan kekuatan mereka jika mereka melakukan upaya untuk menurunkan berat badannya," ujar LaRoche.
Hasil penelitian tersebut akan diterbitkan dalam Journal of Electromyography and Kinesiology edisi bulan Oktober 2011.


Detik.com

Sabtu, 27 Agustus 2011

Waspadalah, Gemuk di Perut Berisiko Osteoporosis

Waspadalah, Gemuk di Perut Berisiko Osteoporosis

Selama bertahun-tahun kita percaya bahwa perempuan gemuk memiliki risiko lebih rendah mengalami osteoporosis dan bahwa kelebihan lemak dalam tubuh bisa melindungi dari kehilangan massa tulang. Namun demikian sebuah studi yang dipresentasikan di pertemuan tahunan menemukan bahwa terlalu banyak memiliki lemak internal di perut dapat merusak dampak pada kesehatan tulang.

"Kita tahu bahwa obesitas merupakan masalah utama kesehatan masyarakat,� kata kepala studi Miriam A. Bredella, M.D., seorang radiolog di Massachusetts General Hospital dan asisten profesor radiologi di Harvard Medical School, Boston. "Kini kita tahu bahwa kegemukan perut perlu dimasukkan sebagai faktor risiko untuk osteoporosis dan kehilangan massa tulang.�

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekira 72 juta warga dewasa Amerika dipertimbangkan gemuk. CDC menentukan kegemukan jika memiliki (BMI) sebesar 30 atau di atasnya. Kegemukan dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan, antara lain penyakit kardiovaskular, diabetes, kolesterol tinggi, asma, sleep apnea dan sakit pada persendian. Meskipun ada sejumlah masalah
kesehatan, namun menjadi kepercayaan umum bahwa peningkatan berat badan pada perempuan dapat menurunkan risiko kehilangan massa tulang.

Namun tidak semua lemak tubuh itu sana. Lemak subkutan hanya berada di bawah kulit. Sedangkan visceral atau lemak intra abdominal berada di bagian dalam jaringan otot di dalam rongga perut. Genetik, makanan dan olahraga semuanya berkontribusi pada terbentuknya lemak visceral yang tersimpan di dalam tubuh.

Kelebihan lemak visceral dipertimbangkan berbahaya, karena beberapa studi sebelumnya telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko untuk penyakit jantung.
Menurut National Women's Health Information Center, sebanyak 10 juta warga Amerika mengalami osteoporosis dan 18 juta lainnya memiliki massa tulang yang rendah, menempatkan mereka pada risiko osteoporosis.
"Masyarakat perlu memahami bahwa kelebihan lemak di perut berisiko untuk kehilangan massa tulang, demikian juga penyakit jantung dan diabetes,� kata Dr. Bredella.

Meskipun hilangnya massa tulang umum terjadi pada perempuan, tim peneliti sedang melakukan studi untuk menentukan apakah lemak perut juga menjadi faktor risiko untuk laki-laki. Peneliti lain yang juga terlibat dalam studi ini adalah Martin Torriani, M.D., Reza Hosseini Ghomi, M.S.E., Bijoy Thomas, M.D., Anne Klibanski, M.D., dan Karen Miller, M.D.

Metrotvnews.com

Kamis, 25 Agustus 2011

Memprediksi Risiko Kematian Orang Gemuk

Memprediksi Risiko Kematian Orang Gemuk

Obesitas atau kelebihan berat badan yang tinggi dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Dengan metode baru Edmonton Obesity Staging System (EOSS), tingkatan obesitas dapat dikaitkan langsung dengan risiko kematian akibat penyakit yang diderita.
Tingkat obesitas selama ini hanya diukur dengan menggunakan metode Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index (BMI). Namun BMI tidak bisa mengaitkannya langsung dengan risiko penyakitnya. BMI juga tidak bisa membedakan antar jaringan lemak. Nah, dengan metode EOSS tingkatan obesitas bisa diklasifikasikan sesuai risiko penyakitnya.

Kategori BMI adalah:
Kategori Kurus: Nilai BMI kurang dari 19
Kategori Ideal: Nilai BMI 19-24,9
Kategori Gemuk: Nilai BMI 25-29,9
Kategori Obesitas: Nilai BMI sama dengan atau lebih dari 30

Kemudian kategori obesitas dibagi lagi tingkatannya berdasarkan standar WHO:
Obesitas tingkat 1: dengan angka BMI 30-4,9
Obesitas tingkat II: dengan angka BMI 35,39,9
Obesitas tingkat III: dengan angka BMI sama dengan atau lebih dari 40

Peneliti Kanada mengembangkan EOSS untuk mengklasifikasikan orang gemuk dalam 5 kategori mulai dari level nol sampai level 4 yaitu:

Level 0, masuk dalam obesitas tingkat I
moderat

Dengan ciri:
Tidak ada tanda-tanda obesitas yang terkait faktor risiko penyakit
Tidak ada gejala fisik dan psikis.
Tidak ada keterbatasan fungsi tubuh
Dengan kondisi ini tidak ada faktor risiko yang jelas terhadap tekanan darah, lipid serum dan kadar glukosa puasa dalam kisaran normal.

Level 1, masuk dalam obesitas tingkat I
tinggi

Dengan ciri:
Ada faktor risiko yang terkait dengan hipetensi, kadar gula darah puasa, enzim liver
Mulai ada gejala fisik ringan yang dirasakan seperti apnea atau berhenti bernapas saat tidur, sakit kepala.
Mulai ada gejala psikis ringan yang bisa dirasakan seperti gangguan tersebut mulai memberikan dampak pada kehidupannya.

Level 2, masuk dalam obesitas tingkat II
Dengan ciri:
Terkait erat dengan penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, hipertensi, apnea atau berhenti bernapas saat tidur, osteoartritis. Timbul gejala psikis seperti depresi, tidak bisa mengontrol makan yang amat berlebihan. Aktivitas harian mulai terbatas

Level 3, masuk dalam obesitas tingkat III
Dengan ciri:
Mulai terjadi kerusakan organ-organ karena penyakit gagal jantung, komplikasi diabetes dan masalah osteoartritis yang parah.
Gejala psikis yang dirasakan sangat signifikan seperti depresi berat dan keinginan untuk bunuh diri. Fungsi tubuh makin mengalami keterbatasan yang mengganggu aktivitas rutin sehari-hari Kualitas hidup sangat tidak baik

Level 4, masuk kategori obesitas tingkat III parah Dengan ciri:
Risiko kematian yang sudah semakin dekat
karena kegagalan fungsi organ Fungsi-fungsi tubuh makin terbatas

Untuk mengevaluasi EOSS, Jennifer L. Kuk, PhD dan rekan penelitian dari Toronto's York University, telah meneliti ribuan catatan pasien dari sebuah klinik di Texas. Setiap pasien dibagi dalam kelompok berdasarkan risiko dalam perhitungan EOSS dalam 16 tahun riwayat medis.

"Nilai tinggi dalam EOSS adalah prediktor yang kuat atas peningkatan angka kematian. Bahkan dalam kategorisasi BMI, ada pemisahan yang jelas dari kurva survival menurut skor EOSS," kata Dr Raj Padwal dari University of Alberta dalam Canadian Medical Association Journal edisi 15 Agustus 2011 seperti dikutip esciencenews, Kamis (25/8/2011).
Alat ini dapat digunakan untuk memprioritaskan pasien dalam perawatan obesitas, termasuk intervensi untuk operasi bariatrik (operasi pengecilan lambung). "Penilaian meningkatnya risiko tersebut dapat memberi pemahaman yang lebih besar atas prognosis obesitas dan juga dapat membantu menentukan urgensi intervensi," kata Dr Raj.

Peneliti mengusulkan agar EOSS dipertimbangkan sebagai tambahan dalam sistem klasifikasi antropometrik saat ini untuk menilai risiko kesehatan yang berkaitan dengan obesitas serta menentukan prognosis untuk panduan pengobatan.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan obesitas atau kelebihan berat badan, antara lain:
  1. Kurangnya keseimbangan energi

  2. Kurangnya aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari

  3. Lingkungan

  4. Kondisi kesehatan

  5. Obat-obatan

  6. Faktor emosi

  7. Merokok

  8. Usia

  9. Kehamilan

  10. Kurang tidur


Cara Menghitung BMI
Cara menghitung BMI dengan mengkuadratkan nilai tinggi badan (dalam satuan meter). Lalu nilai berat badan (dalam satuan kilogram) dibagi hasil kudrat dari tinggi badan tersebut.

Misalnya seseorang perempuan berusia 30 tahun memiliki berat badan 60 kg dan tinggi badan 160 cm (1,6 meter).

Cara menghitungnya adalah:
Pertama kali mengkuadratkan tinggi badan 1,6 X1,6 hasilnya 2,56. Lalu nilai berat badan dibagi hasil perkalian dari tinggi badan yaitu 60 : 2,56 hasilnya 23,43. Berarti nilai BMI dari perempuan tersebut sebesar 23,43 dan masuk ke dalam kelompok ideal/normal.